|
Siapa yang tidak mengenal pepaya. Mulai dari buahnya yang segar sampai dengan daunnya banyak dimanfaatkan oleh manusia. Tumbuhan dengan batang tegak dan basah ini ternayata juga dapat dimanfaatkan dalam bidang peternakan. Selain daunnya dapat digunakan sebagai pakan ternak, ternyata daun dari tumbuhan tersebut mempunyai khasiat dalam pencernaan ternak. Dari berbagai jenis hijauan yang biasa digunakan untuk pakan, daun pepaya dan daun ketela pohon terbukti berpotensi sebagai anti parasit (anthelmintik).
Diantara penyakit yang menyerang kambing/ domba bahkan dapat mengakibatkan kematian adalah penyakit parasit saluran pencernaan yang disebabkan oleh infeksi cacing nematoda antara lain Haemonchus contortus, Bunostomum sp, Oesophagostomum .sp, Trychoslrongylus sp dan Trichuris sp. Cacing nematoda yang paling banyak ditemukan terutama adalah Haemonchus contortus. Cacing Haemonchus ini paling banyak menimbulkan kerugian ekonomi karena infeksi Haemonchus contortus pada kambing atau domba dapat menyebabkan kematian, menghambat pertumbuhan, menghambat pertambahan berat badan serta menimbulkan gangguan reproduksi. Iklim tropis di Indonesia sangat menunjang kelangsungan hidup parasit ini serta membantu terjadinya infeksi pada ternak kambing/domba.
|
|
Selengkapnya...
|
|
 Tumbuhan dengan nama ilmiah Phaleria macrocarpa di kenal juga dengan nama simalakama (Melayu/Sumatera), Makuto Dewo (Jawa). Tanaman ini berasal dari Papua dan sudah terkenal berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit, seperti: Diabetes Mellitus, Kanker dan Tumor, Hepatitis, Rematik dan Asam urat. Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) sistematika dan klasifikasinya adalah: Divisi : Spermatopyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Bangsa : Thymalaeales Famili (Suku) : Tymelaeaceae Genus (Marga) : Phaleria Spesies (Jenis) : Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
 Program Inseminasi Buatan Satu Tahun Satu Kelahiran (Intan Satu Saka) , sejak dicanangkan sebagai program unggulan Dinas Peternakan tanggal 20 Juni 2008 oleh Bapak Bupati Pamekasan hasilnya cukup menggembirakan, dalam beberapa kesempatan apel ternak hasil nyata program ini selalu ditampilkan di depan. Program yang oleh penggagasnya dimaksudkan sebagai pintu masuk merestorasi pola pembangunan peternakan khususnya di Pamekasan dan Pulau Madura ini mulai terlihat hasilnya. Dari laporan inseminator sendiri dijumpai rata - rata angka 25% akseptor IB sudah berhasil memanfaatkan program ini terutama di daerah bagian selatan Pamekasan yang memang lebih berorientasi bisnis dibandingkan daerah utara dan barat. Apabila dibandingkan dengan potensi yang telah ada capaian secara kuantitatif sebesar 25 kali lipat. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
 Tanaman Solanum khasianum (terong liar) yang dikenal di Indonesia adalah hasil introduksi dari daerah Assam, India pada tahun 1977 dan merupakan salah satu jenis tanaman yang dipergunakan sebagai bahan baku untuk obat-obatan corticosteroid yakni kelompok hormon steroid yang diproduksi oleh adrenal cortex, seperti hormon-hormon sex dan obat kontrasepsi oral. Untuk menghasilkan progesteron dari buah S. khasianum diperlukan suatu proses yang panjang. Hasil ekstraksi dari 5000 gram buah S. khasianum segar diperoleh gliko-alkaloida sebanyak 639 gram bila buah diekstrak dengan pelarut ethanol 70% dan 57,25 gram dengan pelarut air. Dari sintesis gliko-alkaloida diperoleh solasodin kasar sebanyak 13,23 gram dan 12,15 gram dengan kandungan solasodin murni tidak berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan akan tetapi hasil yang didapat dengan pelarut ethanol lebih tinggi (86,41%) daripada pelarut air yaitu sebesar 84,98 %. |
|
|
Penelitian ini dilaksanakan di dua lokasi yaitu bagian pemeliharaan di Laboratorium Lapang Sumber Sekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dan bagian pengamatan uji kualitas spermatozoa di Laboratorium Reproduksi Ternak Universitas Brawijaya Malang. Penelitian yang dilakukan oleh M.Ikhwanuddin dan dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Trinil Susilawati, MS dan Dr.Ir. Nurul Isnaini, MP dilakukan pada Bulan Juni – Agutus 2010 dengan tujuan untuk menguji pengaruh penambahan tepung tomat terhadap kualitas semen itik Mojosari. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
GEN PENYELEKSI AYAM KAMPUNG
|
|
|
|
| Tanggal : 2011-05-06 09:37:54 |
|
Gen sifat mengeram pada ayam kampung dapat digunakan untuk melihat hasil seleksi konvensional kemampuan bertelurnya. Ini didasari oleh penemuan gen untuk sifat mengeram yaitu promotor prolaktin – yang merupakan bagian penting berfungsinya neuroendoktrin untuk memicu kejadian mengeram. Gen promotor prolaktin tersebut berfungsi mengaktifkan awal transkripsi dari ekspresi gen yang merupakan sinyal bekerjanya hormon prolaktin. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
 Pakan merupakan 70% dari komponen bisnis peternakan. Untuk mengatasi permasalahan pakan, saat ini pengembangan usaha sapi potong sudah seharusnya dilakukan dengan pendekatan pola integrasi yang dapat dilakukan dengan tanaman pangan, perkebunan ataupun yang lain. Pemanfaatan bahan pakan lokal asal biomas tanaman secara optimal dan sebaliknya menekan penggunaan bahan pakan dari luar, dikenal dengan konsep low external input sustainable agriculture (LEISA) merupakan alternatif pilihan. Loka Penelitian Sapi Potong telah melakukan penelitian pakan menggunakan salah satu bahan asal biomas tanaman pangan yaitu biomas singkong sebagai upaya efisiensi pada pemeliharaan sapi pedet lepas sapih. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Pengolahan limbah pertanian, termasuk limbah cair industri pengolahan banyak dikembangkan menggunakan proses fermentasi metan yang menghasilkan energi berupa gas metan. Belakangan ini telah dikembangkan kombinasi fermentasi metan dengan fermentasi hidrogen yang disebut perlakuan dua tahap (two-step treatment). Yakni perlakuan fermentasi hidrogen yang dilanjutkan dengan fermentasi metan. Satu kelompok 5 orang ilmuwan Jepang belum lama ini mencoba penggunaan campuran kotoran ternak (sapi) dengan limbah organik lainnya untuk perlakuan fermentasi satu dan dua tahap. Temuan-temuan mereka membuka peluang dan manfaat baru dalam kegiatan penanganan limbah organik. Kelompok ilmuwan tersebut, Hiroshi Yokoyama dkk dari tim riset daur ulang limbah dan tim riset pengendalian polusi pada Lembaga Nasional Ilmu Peternakan dan Lahan Rumput Badan Nasional Riset Pertanian dan Pangan Jepang menggunakan kotoran sapi sebagai campuran limbah organik lain karena kotoran hewan biasanya mengandung bakteri penghasil hidrogen. Sehingga pada fermentasi hidrogen tidak perlu menambahkan benih bakteri tersebut pada substrat yang akan difermentasi. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Sejak jaman dahulu sudah diketahui kalau sirih mampu menghambat pertumbuhan kuman. Zat yang dapat menghambat pertumbuhan kuman yang terkandung pada Sirih antara lain adalah zat phenol betle (cavicol, cavibetol, carvacrol, eugenol dan alliphyrocatechol). Menurut penelitian dari Sjoekoer dkk (Peneliti mikrobiologi dari FK Unibraw) bahwa infusum sirih dapat menghambat pertumbuhan E.coli, Staphylococcus koagulase positif, Salmonella typhosa, bahkan Pseudomonas aeruginosa yang kerap kali resisten terhadap antibiotik. Menurut penelitian penulis, sebenarnya pada konsentrasi 3,25% sudah terjadi penghambatan pertumbuhan Candida albicans, tetapi hambatan total (tidak didapatkan koloni kuman) baru terjadi pada konsentrasi 7,5%. Kematian kuman ini diduga disebabkan karena adanya perusakan membran plasma, inaktivasi enzim, dan denaturasi protein. Cara pembuatan dekok sirih ini sangatlah mudah, cukup dengan merebus sirih sesuai dengan langkah-langkah berikut : Potong-potong sirih menjadi potongan kecil-kecil kemudian timbang sebanyak 20 gr. Masukkan kedalam wadah tertutup (bisa pakai labu erlemeyer) yang tebuat dari kaca, porselen, atau panci yang dicat.Tambahkan aqua sebanyak 100 ccTutup rapat wadah (bisa dengan alumunium foil), kemudian panaskan pada suhu kurang lebih 100oC selama 15 menit. Setelah dingin tuang airnya larutan bisa diencerkan dengan penambahan aqua untuk mendapatkan konsentrasi yang lebih rendah. Resep diatas hanyalah contoh untuk mendapatkan larutan 20% sebanyak 100 cc, bila Anda menghendaki yang lebih banyak silahkan membuatnya dengan takaran kelipatannya. Dekok ini akan berwarna kuning kehijauan dan jernih. Bila sudah disimpan lebih dari satu hari akan berubah menjadi warna coklat keruh , berati dekok ini sudah mengalami oksidasi. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Oleh: Prof. Dr. Drh. Soeripto Pewarnaan akan memudahkan pembacaan uji serologi pada penyakit secara kasat mata. Masih maraknya serangan penyakit pernafasan pada ayam dan radang persendian membutuhkan reaksi pencegahan dan pengobatan yang cepat. Salah satu caranya adalah mendeteksi organisme penyebab penyakit yaitu Mycoplasma melalui uji serologi dengan waktu singkat dan tepat. |
|
Selengkapnya...
|
|
|